Nama: Raditya Prabowo

NRP: F24100088

Laskar 15

Crita ini berawal ketika suatu hari saat saya sedang keluar dari gereja, ada suara remaja berkata:

“Beli kartunya dong Kak”. Sambil berkata demikian, donny, tampak menarik tangan saya dan memamerkan beberapa kartu ucapan di tangannya. Ada 5 buah, kartu-kartu
itu dibungkus plastik transparan. Ada sebuah kartu yang sederhana,
dengan hanya satu gambar bunga di depannya. Dia bilang, kartu-kartu itu adalah buatannya sendiri. Saya ambil satu, dan dia pun tersenyum.

Ya, donny, adalah sama dengan remaja lainnya. Namun, yang
membedakannya mungkin hanya karena dia adalah penderita Down Syndrome, ditambah
dengan gangguan Cerebral Palsy. Tangannya, sering bergerak tak menentu.
Bicaranya tak jelas, disertai dengan lonjakan-lonjakan kepala yang intens.

Kartu mungil itulah yang menjadi awal kami berbicara. Saya berusaha untuk mengenalnya lebih lanjut dengan menanyakan kabarnya. Tangannya mulai bergerak spastis.
Kursi roda yang didudukinya bergeser. Tak lama kemudian, mulailah ia bercerita
tentang apa yang dirasakannya. Ia ingin sekali punya seperangkat alat musik. Ia
ingin punya gitar, dan piano agar dapat bernyanyi setiap hari.

Setiap minggu, dikunjunginya gereja tersebut, dan ditawarkannya kartu
buatannya itu kepada para jemaat. Donny juga sering menyumbangkan suaranya disana. Dia lalu juga bercerita bahwa dia sudah mengumpulkan uang sebanyak 500 ribu, hasil dari kartu-kartu buatannya. Dengan uang itu, ia berniat untuk membeli piano dan gitar. Ah, dia tampak bersemangat sekali.

Ya, saya berpikir piano dan gitar macam apa yang dia dapatkan dengan uang 500 ribu. Saya sangat kagum dengan dia karena walaupun tak sempurna, tak kurang juga semangatnya untuk tetap menjalani hidup ini. Uang itu adalah segalanya bagi Donny.

Saya sangat terinspirasi oleh donny. Bila dibandingkan dengan donny, saya lebih beruntung dari pada dia. Tapi terkadang sering sekali saya menyeluh dan terus mengeluh tentang hidup ini, menjadi tidak bersemangat. Tetapi karena donny, saya selalu berusaha untuk bersemangat dalam menjani hidup ini. Terus berjuang dan tidak ingin untuk mudah putus asa. Semoga cerita ini juga menginspirasi teman-teman. Sekian.

Nama: Raditya Prabowo

NRP: F24100088

Laskar 15

Dalam hidup ini banyak pengalaman-pengalaman kecil yang dapat memberikan diri kita sendiri inspirasi, tetapi sering kali tidak kita sadari. Padahal kenyataannya, inspirasi tersebut dapat sangat membantu kita memutuskan tindakan untuk melangkah kedepannya. Sama seperti yang saya alami belum lama ini.

Pada tahap akhir SMA, saya berusaha untuk mendaftar di beberapa perguruan tinggi negeri dan juga melalui berbagai jalur masuk. Ya, akhirnya saya berhasil untuk menjadi salah satu mahasiswa IPB melalui jalur UTM. Awalnya saya senang diterima di IPB, tetapi semua itu berubah ketika IPB memberikan berita bahwa semua calon mahasiswa IPB dari jalur USMI dan UTM harus mengikuti matrikulasi.

Saya sangat kecewa. Bagaimana tidak? Karena matrikulasi ini mengharuskan kita untuk masuk dan belajar satu setengah bulan lebih cepat dari kebanyakan universitas lain. Liburan yang seharusnya panjang dan menyenangkan terpotong banyak akibat dari matrikulasi ini. Saya sempat protes dan tidak mau masuk IPB. Tetapi orang tua saya terus meyakinkan saya untuk tetap sabar dan menjalaninya.

Akhirnya saya dengan hati terpaksa mengikuti matrikulasi. Belum lagi situasi asrama yang jauh dari harapan memperkeruh keadaan. Benar-benar sangat berat hari pertama di asrama TPB. Saya selalu berfikir negatif tentang asrama, IPB, matrikulasi, dan keadaan yang serba baru. Hari demi hari berasa lama sekali.

Akhirnya matrikulasi pun berakhir, nilai uts dan uas pun sudah diumumkan. Ternyata saya mendapat nilai baik, yaitu A. Saya sangat senang karena hal itu. Teringat nasihat orang tua saya untuk memanfaatkan dengan sebaiknya matrikulasi ini.

Hal ini memberikan saya inspirasi sehingga termotivasi untuk dengan semangat mengikuti kuliah reguler di IPB ini. Tentu keberhasilan saya ini tak terlepas karena dukungan teman-teman selorong saya. Tanpa mereka pasti saya tidak seperti ini. Terutama teman sekamar saya Ika dan Andang yang selalu membantu saya disaat susah. Terima kasih teman.

Ya, begitulah pengalaman, yang mungkin terlihat sepele, yang saya sadari dapat memberikan saya inspirasi untuk menentukan langkah saya untuk terus berusaha dan bersemangat kuliah di IPB. Dimana saya juga belajar untuk tidak mengeluh terlebih dahulu sebelum melakukan suatu hal. Yang penting tetap berusaha dan melakukannya dengan sepenuh hati. Sekian.

Search
Archives